Archive for the ‘China’ Tag
Harga sesungguhnya dari Banjir di Jakarta
Untuk mengerti betapa seriusnya banjir yang langganan melanda ibukota negeri kita, kita harus mulai dari menghitung kerugian yang ditimbulkan.
Secara kasar dan kualitatif, dari yang terbesar sampai terkecil, urutannya adalah sebagai berikut:
- Rusaknya image negara kita di mata internasional
- Lumpuhnya perekonomian
- Rakyat menjadi sengsara atau bahkan kehilangan nyawa
- Kerusakan Infrastruktur
- Kerusakan Lingkungan
Dalam dunia globalisasi dewasa ini, negara yang pandai memainkan perannya dengan strategis dalam percaturan dunia akan melesat maju. Tidak ada negara yang mampu maju dengan pesat tanpa kepandaian membaca situasi global dan menempatkan diri secara tepat. China & Vietnam maju karena menjadi pabrik produksi bagi dunia, India maju karena menjadi IT back-office bagi dunia. Dalam situati seperti ini image sebuah negara menjadi sangat penting karena sama seperti dalam pergaulan manusia, kita cenderung lebih suka bergaul dengan orang2 yang cakap, penuh kelebihan atau berkuasa. Sulit bagi dunia untuk tertarik, mau bergaul dan bisa percaya dengan negara yang urusan dalam negerinya sendiri semerawut, sama seperti kita akan enggan berbisnis dengan orang yang ingusnya kemana-mana dan bau badannya menyengat. Dan ibukota sebuah negara adalah barometer utama dari seberapa baik managemen pemerintah negara tersebut karena itu adalah halaman belakang rumah mereka sendiri.
Andaikan penulis berkampanye menjadi walikota DKI Jakarta, maka slogan saya hanya akan satu: Jakarta bebas banjir!
Kenapa? Karena ini bukan hanya tema yang sangat penting, tapi juga tema yang dekat di hati rakyat besar maupun kecil.
Sebetulnya ada tema yang berhubungan dan juga pasti populer bagi penduduk ibukota: Jakarta bebas macet!
Tapi yang kedua ini saya tidak akan berani janji, karena nanti janji tinggal janji; masalah kemacetan masih menjadi momok bagi kota metropolitan di seluruh dunia, jadi kita harus realistis sambil tetap belajar dari mereka dan berbenah diri.
Apakah mungkin Jakarta bebas banjir? Mungkin! Karena membendung air laut saja Belanda sudah bisa, jadi air hujan harusnya tidak jadi masalah.
Caranya? Penulis hanya bisa terpikir sekeping dari keseluruhan puzzlenya: Panggil international consultant untuk mengkaji dan memberi solusi. Lalu mandat dari atas harus kuat dan jelas untuk implementasi solusinya.
Kenapa harus panggil bantuan dari luar negeri? Bukan karena putra putri bangsa ini tidak ada yang cukup kompeten, tapi karena yang kompeten banyak yang berakhir di luar negeri, lalu kerjanya pada konsultan asing. Tapi selain soal kompetensi, konsultan asing juga penting untuk menjamin objektivitas dan keberanian dalam menawarkan pil pahit yang memang harus ditelan.
Masalah penangganan banjir sangat berkaitan erat dengan infrastruktur, selama Jakarta masih banjir, jalanan akan terus rusak dan kemacetan akan semakin parah. Infrastruktur yang baik akan mampu menunjang sarana transportasi publik yang memadai. Tanpa sarana transportasi publik yang memadai dan nyaman, maka mimpi belaka untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di Jakarta, karena harus ada alternatif dahulu baru kita bisa meminta masyarakat untuk memilih. Yang terjadi saat ini adalah kendaraan pribadi menjadi satu-satunya pilihan bagi sebagian besar warga ibukota.
Banjir & kemacetan mungkin sudah dianggap lumrah oleh warga ibukota, dan kita belajar untuk hidup dengan kenyataan ini. Tapi kerugian2 yang ditimbulkan apabila dihitung sebenarnya sangatlah besar. Not just the tangible things, but also the intangible things, penulis sudah menyinggung tentang image di mata dunia internasional. Berkaitan dengan hal ini adalah kompetisi global akan sumber daya manusia, yang sesungguhnya tidak kalah dashyat dari kompetisi akan minyak bumi atau kekayaan alam lainnya. Perbedaannya adalah SDM renewable (bisa dididik/dibina), tapi juga removeable (bisa berpindah dari satu negara ke negara lainnya).
Selama Jakarta terus menerus semerawut, maka mendatangkan tenaga ahli atau profesional asing untuk tinggal, bekerja dan berkontribusi bagi Indonesia sungguh adalah mimpi belaka. Jangankan orang asing, putra putri terbaik bangsa pun tidak mau kembali ke tanah air, dan akibatnya adalah negara ini pun semakin minim SDM bermutu. Sumber Daya Alam(SDA) tanpa SDM yang baik hanya akan membuat suatu negara dibodohi dan dikuras kekayaan alamnya seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini. SDA bisa mencapai nilai penuh sesuai dengan potensinya apabila dikelola oleh SDM yang baik. Jadi SDA tanpa SDM menjadi kurang bernilai, sementara SDM tanpa SDA masih tetap bisa menghasilkan karya yang bernilai.
Perusahaan2 raksasa dalam bidang teknologi, farmasi, keuangan dan konsultansi boleh menjadi besar bukan karena cadangan minyak mereka banyak, tapi karena otak-otak terbaik ada pada mereka. Sama halnya bagi negara2, Singapura hanyalah negara kecil yang tidak ada SDA apa pun, pasir dan air bersih pun mereka harus impor, tapi negara ini jauh lebih maju daripada tetangga2nya yang SDAnya segudang. Kita harus belajar dari kesuksesan mereka semua, belajar berbenah diri dan menghargai sebagaimana sepatutnya putra putri bangsa yang berkualitas, lalu mengundang mereka kembali untuk membangun tanah air.
Leave a Comment